DO’A DAN RAMADHAN



“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, Maka (jawablah), bahwasanya aku adalah dekat. aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (al-Baqarah: 186)

Satu hal yang menarik dari ayat di atas adalah, ayat ini berada ditengah pembahasan al-quran tentang shaum ramadhan. Tiga ayat sebelumnya dan satu ayat sesudahnya adalah ayat-ayat yang membahas tentang shaum ramadhan. Mengenai penempatan ayat seperti ini, para ulama menyimpulkan bahwa sesungguhnya do’a memiliki kaitan erat dengan shaum. Ibnu Katsir misalnya menjelaskan bahwa penyebutan ayat yang menganjurkan untuk senantiasa berdo’a di sela-sela ayat tentang hukum shaum menunjukan bahwa kaum muslimin didorong untuk bersungguh-sungguh dalam berdo’a ketika sedang menjalankan shaum di bulan ramadhan. Kesimpulan ini menurut Ibnu Katsir sesuai dengan hadits Rasulullah berikut:
ثلاثه لاترد دعوتهم : الأمام العادل , والصائم حتى يفطر , ودعوة المظلوم يرفعها الله فوق الغمام ويفتح لها أبواب السماء
“Tiga orang yang do’anya tidak akan ditolak: Pemimpin yang adil, orang yang sedang shaum hingga ia berbuka dan do’a orang yang didzalimi. Allah akan mengangkat awan hitam dan membukakan pintu langit bagi do’a-do’a tersebut”. (HR. Tirmidzi dari Sahabat Abu Hurairah)

Kesimpulan serupa juga dikemukakan Imam Asy-Sya’rawi dalam tafsirnya, karena itu menurutnya berdo’a merupakan salah satu ibadah yang sangat baik dilakukan oleh orang yang sedang shaum di bulan Ramadhan. Apalagi menurutnya dalam ayat ini Allah menggunakan kata i’bad untuk memanggil hamba-hambaNya, tidak menggunakan kata a’bid. Keduaya memang memiliki arti yang sama, yaitu hamba. Bedanya a’bid adalah hamba yang tunduk karena terpaksa sedangkan i’bad bermakna hamba yang taat. Allah menjelaskan mengenai hal ini dalam surat al-Furqon ayat 63-64:

“Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan. Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka.”


Dengan demikian orang yang do’anya akan didengar dan dijawab oleh Allah adalah do’a dari hamba-hambaNya yang taat. Karena itu kemudian dalam ayat tersebut Allah memerintahkan kepada orang yang berdo’a agar beriman kepadaNya dan memenuhi segala perintahNya (falyastajibu li wal yu’minu bi). Abu Bakar Al-Jazairi menjelaskan makna falyastajibu li lebih jauh, menurutnya yang dimaksud dengan falyastajibu li adalah, hendaknya orang yang akan berdo’a itu memenuhi panggilan Allah jika Allah memanggilnya untuk taat kepadaNya dan kepada rasulNya. Ketaatan itu diwujudkan dengan melakukan apa yang diperintahkan dan meninggalkan apa yang dilarangNya serta mendekatkan diri kepada Allah dengan melakukan perbuatan-perbuatan yang dapat mendekatkan diri kepadaNya dan meninggalkan perbuatan yang dapat mendatangkan kemurkaanNya.
Maka ketaatan kepada Allah dan RasulNya merupakan salah satu syarat dikabulkannya do’a. Wahb bin Munabbih mengatakan, “Perumpamaan orang yang berdo’a tanpa amal seperti orang yang memanah tanpa anak panah”. Artinya do’a akan sampai kepada Allah hanya jika orang yang berdo’a memilki bekal amal shaleh.
Selain amal shaleh, agar do’a dikabukan, orang yang berdo’a juga harus menghindari larangan-larangan Allah, terutama menjaga diri dari hal-hal yang diharamkan Allah. Dalam sebuah hadits dijelaskan:
ثم ذكر الرجل يطيل السفر أشعث أغبر يمد يده إلى السماء : يا رب ! يا رب ! ومطعمه حرام ومشربه حرام وملبسه حرام وغذي بالحرام فأنى يستجاب له ؟.
“Kemudian Rasulullah menyebutkan seorang lelaki yang sedang dalam perjalanan, memakai baju lusuh dan berambut kusut, menengadahkan tangan ke langit sambil berdo’a: Ya Rab, Ya Rab, sementara makanan yang ia makan haram, minuman yang ia minum haram, pakaian yang ia pakai haram dan ia dicukupkan dengan yang haram, lantas bagaiaman do’anya akan dikabulkan?” (HR. Muslim, no. 1015)

Artinya Allah tidak mungkin akan mengabulkan do’a seorang hamba jika hamba itu tidak menjaga dirinya dari hal-hal yang diharamkan Allah.

Waktu Mustajab di Bulan Ramadhan
Disamping buan Ramadhan merupakan bulan yang utama untuk berdo’a, di dalamnya ada juga waktu-waktu mustajab, waktu dimana do’a akan lebih mudah dikabulkan insyaAllah. Diantaranya adalah waktu ketika sahur dan ketika berbuka.
Mengenai keutamaan waktu sahur Allah berfirman:

“(yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur.” (Ali Imran: 17)

Karena itu, apabila Rasulullah mendapati waktu sahur beliau membaca doa:
سَمِعَ سَامِعٌ بِحَمْدِ اللَّهِ وَحُسْنِ بَلَائِهِ عَلَيْنَا رَبَّنَا صَاحِبْنَا وَأَفْضِلْ عَلَيْنَا عَائِذًا بِاللَّهِ مِنْ النَّارِ
“Semoga ada yang memperdengarkan pujian kami kepada Allah atas nikmat dan cobaan-Nya yang baik bagi kami. Wahai Rabb kami, dampingilah kami (peliharalah kami) dan berilah karunia kepada kami dengan berlindung kepada Allah dari api neraka.” (HR: Muslim no. 2718 dari hadits Abu Hurairah).

Sementara keutamaan berdoa ketika berbuka dijelaskan oleh Rasulullah dalam haditsnya:
إِنَّ لِلصَّائِمِ عِنْدَ فِطْرِهِ لَدَعْوَةً مَا تُرَدُّ
“Sesungguhnya orang yang berpuasa memiliki doa yang tidak tertolak pada saat berbuka.” (HR Ibnu Majah 1743)

Karena itu momentum Ramadhan sangat tepat digunakan sebagai wahana untuk memperbanyak berdo’a, waktunya adalah waktu yang mustajab dan orang yang sedang shaum adalah orang yang sedang melaksanakan ketaatan kepada Allah sekaligus sedang menahan diri dari segala larangan dan yang diharamkan. Dengan begitu do’a yang dipanjatkan memiliki kekuatan luar biasa, dan mempunyai kemungkinan besar untuk diterima dan dikabulkan insyaAllah. Wallahu ‘alam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ISLAM DALAM PANDANGAN SARJANA BARAT

KETENANGAN DAN KESEIMBANGAN JIWA SEBAGAI BEKAL DA’I