MENGENANG KEPERGIAN USTADZ MUZAYYIN: “Hubungan Saya dengan Pak Natsir Sangat Intens”

Muzzayin Abdul Wahab rahimahullah adalah salah seorang kader terbaik Mohammad Natsir rahimahullah. Dibawah ini pemaparan Ustadz Muzayyin tentang kebersamaannya bersama Pak Natsir: Orangtua saya adalah aktivis Masyumi. Bapak saya pengurus harian Masyumi Kabupaten Boyolali sementara Ibu adalah ketua Wanita Islam. Ketika saya kecil, orang tua saya sering bercerita mengenai empat tokoh nasional. Mereka adalah Pak Natsir, Buya Hamka, Pak Prawoto dan Pak Kasman. Kesan saya dari cerita-cerita orangtua saya itu, mereka adalah tokoh Islam besar dan penggerak Masyumi. Maka semenjak kecil saya sudah cukup akrab dengan nama Pak Natsir. Kemudian ketika saya kuliah di Institut Agama Islam Muhamadiyah Surakarta, saya mengikuti daurah du’at yang diadakan oleh Dewan Da’wah Jawa Tengah dan Dewan Da’wah Surakarta bekerjasama dengan masjid Mujahidin Banyu Anyar, Surakarta. Daurah yang saat itu bernama Up Grading Mubaligh itu dilaksanakan selama sepekan. Dalam daurah itu saya berkenalan dengan para aktifis dakwah seperti KH. Ali Darokah sebagai ketua Dewan Da’wah Jawa Timur, Ustadz Abdullah Sungkar sebagai ketua Dewan Da’wah Surakarta, Ustadz Rusli Dato Maju Batoah, Ustadz Rusdi Ahmad Syuhada, Ustadz Hasan Basri, Ustadz Ahmad Husnan dan Ustadz Solehan. Dari mereka-mereka inilah saya banyak berguru, merasa terbentuk dari ilmu dan keteladanan yang mereka sampaikan. Dan itu memupuk semangat berjuang saya. Setelah daurah ini, hubungan saya dengan para pengurus Dewan Da’wah Jawa Tengah mulai intens. Setelah mengikuti daurah itu, saya kemudian mengadakan penelitian mengenai dua hal, pertama mengenai kemusyrikan yang terdapat di Gunung Tugel Simoh. Di puncak gunung itu ada sebuah makam orang shaleh yang kemudian digunakan orang sebagai tempat pemujaan dan meminta. Kedua, mengenai kristenisasi yang terjadi di Mojosongo Boyolali. Kebetulan yang menjadi lurahnya adalah teman kuliah saya, sehingga saya mendapatkan akses informasi yang mudah. Dua penelitian itu saya laporkan dalam sebuah tulisan. Tulisan itu kemudian saya serahkan kepada Dewan Da’wah Jawa Tengah. Oleh Dewan Da’wah Jawa Tengah dilanjutkan ke Dewan Da’wah Pusat. Rupanya laporan saya itu mendapat perhatian dari Dewan Da’wah Pusat, sebab beberapa waktu kemudian, melalui Dewan Da’wah Jawa Tengah saya dipanggil ke Jakarta. Maka berangkatlah saya ke Jakarta seorang diri. Sesampainya di Jakarta saya langsung menuju kantor Dewan Da’wah Pusat yang saat itu masih berada di Masjid al-Munawarah Tanah Abang. Sesampainya di kantor Dewan Da’wah Pusat saya diterima oleh Pak Ahmad Hasan, petugas penerima tamu. Setelah didata saya kemudian mengantri bersama tamu-tamu lainnya untuk bertemu dengan Pak Natsir. Sulit melukiskan perasaan saya waktu itu. Seorang anak kecil dari udik akan bertemu tokoh besar Internasional sekaliber Pak Natsir. Kemudian datanglah kesempatan itu, saya bertemu dengan Pak Natsir. Ruangan Pak Natsir sebagai ketua Dewan Da’wah waktu itu ukurannya kecil, terletak di lantai bawah masjid al-Munawarah. Begitu masuk Pak Natsir langsung mengulurkan tangannya, disertai senyumannya yang khas beliau menyapa saya, ”Apa Kabar?”. Senyuman Pak Natsir waktu itu masih saya ingat hingga kini. Cara Pak Natsir menghadapi orang memang khas dan selalu begitu, mengulurkan tangan dan berkata, ”Apa Kabar?”. Setelah itu saya kemudian dikagetkan oleh pertanyaan Pak Natsir selanjutnya, ”Bagaimana dakwah di Boyolali?”. Rupanya tulisan saya tempo hari mendapat perhatian serius dari Pak Natsir. Setelah itu Pak Natsir bertanya mengenai orangtua dan masalah dakwah. Dalam pertemuan pertama dengan Pak Natsir itu saya tidak berfikir sama sekali bahwa itu adalah awal dari perjalanan panjang saya bersama Pak Natsir. Saat itu saya bahkan berfikir bahwa ini adalah kesempatan sekali-kalinya untuk bertemu dan berbincang bersama Pak Natsir. Dari pertemuan pertama itu saya menangkap kesan bahwa Pak Natsir itu orangnya sangat ramah. Selain itu beliau juga sangat peduli dengan masalah dakwah. Karena pertanyaan yang pertama kali ditanyakan dalam pertemuan pertama itu adalah mengenai dakwah di Boyolali. Pembicaraan pertama saya dengan Pak Natsir berlangsung kurang lebih setengah jam. Dalam pembicaraan itu Pak Natsir bertanya, ”Saudara mau jadi da’i Dewan Da’wah?”, saya jawab, ”Karena selama ini juga sudah mulai sedikit-sedikit berdakwah ya InsyaAllah”. ”Kalau begitu saudara hubungi Pak Mawardi Noor di lantai dua”, ujar Pak Natsir kemudian. Maka setelah bertemu Pak Natsir saya langsung menemui Pak Mawardi Noor, menjawab beberapa pertanyaan dari beliau dan mengisi formulir. Setelah bertemu Pak Mawardi Noor saya kembali dipanggil Pak Natsir. ”Saudara mau kembali ke Solo?”, Pak Natsir bertanya, ”Iya Pak”, jawab saya. Maka Pak Natsir menitipkan saya kepada Pak Buchari Tamam dan saya kemudian diantar sampai ke terminal Pulo Gadung. Sesampainya di Solo saya melaporkan apa yang saya alami di Jakarta kepada Dewan Da’wah Jawa Tengah. Setelah itu saya pulang ke rumah dan beraktifitas seperti sedia kala. Sepekan di rumah, saya kembali dipanggil Pak Solehan. Beliau memberitahukan saya bahwa saya kembali dipanggil Pak Natsir ke Jakarta untuk mengikuti pelatihan da’i. Maka berangkatlah kembali saya ke Jakarta. Begitu sampai di kantor Dewan Da’wah Pusat, saya kembali bertemu dengan Pak Natsir. Beliau bertanya mengenai kabar pengurus Dewan Da’wah Jawa Tengah. Karena saya cukup akrab dengan mereka, maka sedikit banyak saya dapat menjawab pertanyaan Pak Natsir itu. Dalam perbincangan itu Pak Natsir kemudian berujar diiringi tawa, ”Nanti saudara akan dibimbing oleh Pak Saleh Widodo, orang Solo juga”. Pelatihan da’i ini dilaksanakan di Pesantren Darul Falah Bogor. Materinya mengenai dakwah dan metode riset. Pesertanya para da’i Dewan Da’wah dari berbagai daerah, ada dari Aceh, Padang, Jawa Timur, Jawa Tengah dan tempat-tempat lainnya. Para pematerinya selain Pak Saleh Widodo adalah Pak Ali Rahman, Pak Natsir, Pak Mawardi Noor dan lainnya. Sementara yang membersamai kami adalah tiga orang da’i Dewan Da’wah yang menjadi staf pengajar di Darul Falah, mereka adalah Ustadz Kamaluddin Iskandar Ishaq, Ustadz Didin Hafiduddin dan Ustadz Lukman. Pelatihan ini bagi saya adalah peristiwa yang sangat penting karena sangat berpengaruh kepada perkembangan pribadi dan identitas diri saya selanjutnya. Setelah pelatihan saya ditugaskan untuk berdakwah di Bali. Namun karena saya belum mempunyai KTP maka saya meminta untuk sementara ditempatkan di Dewan Da’wah Jawa Tengah dulu sampai KTP saya selesai. Maka saya kembali ke Jawa Tengah dan selama empat bulan membantu Dewan Da’wah di sana. Setelah itu saya kembali dipanggil ke Jakarta oleh Pak Natsir. Kali ini kantor Dewan Da’wah sudah pindah ke Jl. Diponegoro. Saya kemudian diminta untuk mengkompilasi laporan da’i Dewan Da’wah dari seluruh Indonesia. Setelah pekerjaan saya itu selesai, Pak Mawardi Noor kemudian memberitahu saya bahwa saya diminta untuk terus bekerja di Dewan da’wah Pusat. Sejak itu hubungan saya dengan Pak Natsir semakin intens. Interaksi saya dengan Pak Natsir mungkin bisa dibagi dalam dua tahap. Pertama, tahap sebelum saya pergi belajar ke Saudi selama kurang lebih dua tahun. Kedua, tahap setelah saya kembali dari belajar di Saudi, dan ini berlangsung cukup lama sampai Pak Natsir dipanggil oleh Allah swt. Pada tahap pertama saya diberikan amanah menangani da’i di lapangan. Di kemudian hari ini menjadi bagian dari Biro Da'wah dan Diklat. Tugas yang diberikan kepada saya yaitu menangani pelatihan-pelatihan da'i dan memenej laporan-laporan dari da’i di lapangan. Bagi saya ini pengalaman penting karena dengan begitu saya mengenal seluruh da’i Dewan Da'wah. Disamping itu dengan korespondensi bersama mereka (da’i lapangan) membuat saya mengetahui persoalan da'wah secara lebih luas di seluruh kawasan. Karena laporan-laporan da’i itu harus saya baca setiap hari dan kemudian usulan-usulan da’i disampaikan kepada Pak Natsir. Setelah itu dibahas di dalam rapat yang diadakan sepekan sekali. Dalam rapat itu dibahas siapa melaporkan apa dan apa yang harus dilakukan Dewan Da'wah dalam merespon laporan-lapoaran itu. Hal ini terus dilakukan, hangat dibicarakan setiap pekannya. Sehingga kerja da’i di setiap kawasan terpantau setiap saat. Ini yang membuat saya menguasai permasalahan da'wah di lapangan secara lebih luas. Dahulu pelatihan- pelatihan da’i Dewan Da'wah hampir semuanya dipusatkan di pesantren Darul Falah, Bogor. Sehingga umumnya da’i- da’i Dewan Da'wah sangat akrab dengan pesantren Darul Falah. Karena merasa pernah dibina di tempat itu sehingga ada ikatan batin antara dirinya dengan pesantren Darul Falah. Kemudian, pengalaman penting lain bersama beliau, saya sering diajak mengikuti pertemuan- pertemuan dengan utusan- utusan daerah atau dengan para pengurus Dewan Da'wah daerah yang sedang berkunjung ke pusat. Karena memang pembahasannya tidak akan lepas dari pembahasan da'wah di lapangan. Jadi di sini saya belajar dua hal. Belajar pengenalan dengan para aktifis dakwah dan pengurus Dewan Da’wah di berbagai daerah. Kedua saya belajar bagaimana menghadapi masalah, bagaimana Pak Natsir memberikan solusi- solusi terhadap persoalan yang dikemukakan kawan-kawan dari daerah yang tentu berbeda satu tempat dengan tempat yang lain. Itu yang paling terasa dalam dua tahun pertama. Sesudah itu akhir delapan puluhan saya mendapat tugas belajar ke King Saud University di Jeddah, Saudi Arabia. Maka di sini kesempatan bagi saya untuk menambah ilmu dan secara lebih spesifik memperkuat bahasa Arab. Salah satu kenangan saya selama belajar di Saudi adalah selalu surat meyurat dengan Pak Natsir. Dan memang selalu ditugaskan untuk menulis tentang satu masalah di Timur Tengah berdasarkan data-data dari lapangan. Jadi kalau Pak Natsir ingin mendapatkan informasi mengenai keadaan di Timur Tengah beliau bertanya melalui surat kepada saya dan kawan-kawan lainnnya. Apa yang Pak Natsir tanyakan itu menjadikan saya lebih memperhatikan persoalan-persoalan Timur Tengah. Sesudah selesai belajar selama empat tahun, Alhamdulillah, barangkali karena saya sering surat menyurat dan sering membicarakan apa yang baik dilakukan Dewan Da’wah di Saudi akhirnya saya ditugasi Pak Natsir untuk tetap di Saudi satu tahun berikutnya. Saya ditugaskan untuk membersamai Ustadz Abdul Wahid Alwy yang sudah terlebih dahulu ditunjuk sebagai representasi Dewan Da’wah di Saudi. Ini juga atas permintaan Ustadz Abdul Wahid sendiri. Kebetulan saya masih punya iqomah (izin tinggal) di Saudi setahun setelah saya selesai belajar. Kesempata itu yang diambil Dewan Da’wah dan saya karena tidak memerlukan izin tinggal baru. Dan memang tidak mudah mendapatkan izin tinggal itu. Setelah satu tahun lebih sedikit membantu Ustadz Abdul Wahid, saya kemudian pulang ke Indonesia karena izin tinggal sudah habis. Dari Saudi saya mampir di Malaysia dan Singapura, kurang lebih satu bulan saya di sana, mencari pogram S2 di Universitas Antar Bangsa Malaysia dan Alhamdulillah diterima dan usulan tesis saya juga diterima. Saya kemudian pulang ke Indonesia. Setelah sampai saya melapor ke Dewan Da’wah. Subhanallah, waktu itu yang menggarap urusan luar negeri Dewan Da’wah adalah Ust. Bahrudin Mansur, beliau akan dipindah tugaskan ke Sarawak, Malaysia. Kemudian wallahu'alam saya mungkin dipandang mempunyai bekal untuk urusan luar negeri ini. Di hari ke dua sepulangnya saya, Pak Natsir mengatakan: ”Saudara Muzayyin di sini”. Ya sudah sejak itu saya di Dewan Da’wah pusat lagi, bagian luar negeri. Sejak itu saya tidak tega untuk meninggalkan Pak Natsir. Karena pekerjaan di Dewan Da’wah yang saya rasakan sendiri begitu intens dan banyak. Akhirnya sepenuhnya saya menangani pekerjaan di Biro Luar Negeri. Inilah tahapan yang menurut saya lebih panjang dan lebih banyak pengalaman bergaul denga Pak Natsir. Salah satu kebiasaan Pak Natsir, jika ada seorang kader yang mau bekerja selalu berada dalam hubungan yang sangat intens. Bahkan ada pekerjaan- pekerjaan lain yang ditugaskan kepadanya. Itu dialami oleh beberapa teman lain, tidak hanya saya. Jadi kita terus bekerja tidak pernah berhenti. Mengenai posisi Pak Natsir di dunia Internasional. Tahun 1967, pada awal-awal berdirinya Dewan Da’wah, tidak lama setelah keluar dari penjara, Pak Natsir melakukan kunjungan ke Timur Tengah. Bertemu dengan tokoh- tokoh Islam dari berbagai Negara. Awalnya di Kuwait, Saudi Arabia, Yordania. Kunjungan beliau ini mendapatkan sambutan yang sangat hangat dari tokoh- tokoh Islam yang kemudian meminta Pak Natsir untuk menjadi anggota berbagai organisasi Islam internasional. Diantara organisai itu adalah: 1. Pak Natsir diminta menjadi anggota Majlis T'asisi, Dewan Pendiri Rabithah Alam Islami yang berpusat di Makkah. Dalam posisi sebagai anggota Majlis T’asisi ini Pak Natsir setiap tahun diundang untuk mengikuti muktamar di Makkah. Tentu Pak Natsir bertemu dengan tokoh- tokoh Islam dalam acara itu. 2. Pak Natsir menjadi vice presiden Muktamar Alam Islami yang berpusat di Karachi. 3. Bahkan dalam keadaan Pak Natsir dicekal tidak boleh ke luar negeri mereka tetap memita Pak Natsir menjadi anggota. Misalnya ketika berdiri al-Haiah al-Khairiyyah al-Islamiyah al-Alamiyah / International Islamic Charitable Organization yang berpusat di Kuwait. Pak Natsir menjadi salah seorang dewan pendiri. Sampai wafat, Pak Natsir tidak pernah bisa hadir di sidang-sidangnya karena pencekalan. Maka ditugaskan beberapa orang secara bergantian, utamanya yang sering adalah Ustadz Abdul Wahid Alwy. 4. Kemudian ketika berdiri al-Majlis al-'Ala al-Islami Lidda’wah wal Igatsah / International Islamic Charitable for Da’wa and Relief, yang berpusat di Kairo Mesir, lagi-lagi Pak Natsir diminta jadi anggota tetap merepresentasikan Dewan Da’wah. 5. Dibawah OKI ada Komite Koordinasi Amal Islami, lagi-lagi Dewan Da’wah diminta menjadi anggota dari Indonesia. 6. Di tingkat regional, diprakarsai oleh Malaysia berdiri RESEAF. Pak Natsir menjadi salah seorang pendiri. Ditambah beberapa lembaga yang spesifik menjadikan Pak Natsir sebagai anggota, misalnya berdirinya Universitas Islam Internasional di Islamabad, Pak Natsir diminta menjadi anggota Dewan Kurator, begitu juga di Universitas Islam Internasional Antar Bangsa, Malaysia dan Oxford Centre for Islamic Studies. Waktu itu Saudi dipimpin oleh Raja Faisal. Pak Natsir sangat hormat terhadap Raja Faisal dan kebijakan solidaritas Islam yang ia tumbuhkan. Apalagi ia kemudian terkenal dengan embargo minyaknya. Itu mengikatkan hubungan yang sangat erat antara Raja Faisal dengan Pak Natsir. Karen Pak Natsir dicekal tidak bisa ke luar negeri, mana yang Pak Natsir bisa mewakilkan orang untuk bisa hadir, Pak Natsir wakilkan. Dan ini kesempatan kaderisasi bagi tokoh- tokoh muda untuk bisa bergabung dalam kegiatan- kegiatan Internasional. Jadi untuk persoalan luar negeri ini yang pertama Pak Natsir mengajarkan kepada kita bagaimana dakwah yang kita lakukan ini adalah bagian dari dakwah secara âlamiah (internasional). Sehingga seorang dai itu harus faham dengan persoalan saudara muslim di negeri-negeri yang lain. Untuk menumbuhkan solidaritas Islam dan untuk memahami persoalan-persoalan di negara lain itu menjadi sangat kuat. Kemudian dalam konteks ini apa yang bisa dilakukan oleh Dewan Da’wah terhadap masalah-masalah ummat di belahan dunia lain. Yang kedua, bagaimana membuat dan memperkuat jaringan kerjasama dunia Islam, antara saudara-saudara kita di Timur Tengah khususnya dan dengan kita di Indonesia. Baik kerjasama pengembangan da’i melalui berbagai daurah bersama maupun dalam bentuk program-program dakwah yang riil, seperti pembangunan-pembangunan sarana dakwah. Itu yang kira-kira bisa diambil di masa Pak Natsir. Ini menjadi sangat penting karena ada satu realitas bahwa sejak petisi 50, akhir tahun 1980an, Pak Natsir dicekal tidak bisa ke luar negeri. Jadi hubungan-hubungan ke luar negeri menjadi tidak mudah dan orang yang akan berkunjung ke beliaupun tidak selalu mudah, karena ada persoalan politis maupun teknis. Tapi yang menarik, tamu yang datang dari luar itu tidak pernah putus. Dan bagi saya diantara cara pandang yang menarik dari dicekalnya beliau selama puluhan bahkan belasan tahun hingga beliau wafat, sering menjadi tanda tanya besar dari tamu dari luar negeri. Kalau beliau ditanya mengenai pencekalan itu, Pak Natsir beberapa kali menjawab, ”Pemerintah sangat sayang sama saya, jadi kalau ke luar negeri takut saya hilang, jadi saya tidak diizinkan ke luar negeri”. Itu pertama. Kedua, kata Pak Natsir, ”Kalau saya ke luar negeri paling dalam setahun lima atau enam kali saja saya bisa berkunjung ke berbagai negara dalam berbagai forum. Tapi dengan saya dilarang, orang kemudian pada datang ke Indonesia dan itu lebih banyak”. Pak Natsir melanjutkan penjelasannya, ”Kalau saya keluar negeri saya harus menjelaskan bagaimana keadaan di Indonesia dan itu tidak mudah. Tapi kalau orang datang ke Indonesia dan mereka sangat banyak, itu sangat mudah karena mereka melihat realitas persoalan dakwah di Indoneisa secara langsung. Jadi bagi kita lebih mudah memahamkan mereka ketika mereka datang kesini. Dibading dengan saya keluar. Dan itu baik untuk kepentingan dakwah kita ke depan”. Ini cara mensikapi perlakuan politik terhadap beliau, tidak kemudian marah. Tapi disikapi dengan enjoy saja dan beliau menyampaikan itu selalu dengan senyum yang khas. Umumnya tamu-tamu yang dijelaskan begitu menjadi sangat terkesan dengan kepribadian beliau. Dari peristiwa itu dapat diambi pelajaran bahwa seorang da’i atau pemimpin Islam itu tidak boleh berhenti pada satu titik hanya karena dicekal. Hanya karena ada kebijakan politis yang menghambat dirinya untuk melakukan sesuatu. Memang sosok Pak Natsir sangat dikagumi di dunia Islam. Pertama karena beliau punya trake record panjang dalam amal Islami. Beliau sudah aktif sejak muda memimpin partai Masyumi yang bisa dikatakan sebagai contoh partai Islam yang berhasil memimpin satu negara. Dan itu dalam usia beliau yang masih sangat muda. Ada satu peristiwa yang sangat menarik dan berkesan bagi saya. Yaitu bagimana Pak Natsir bersikap dan mengambil keputusan berkaitan dengan paksaan asas tunggal pancasila terhadap organisasi politik, organisasi sosial bahkan sampai kepada seluruh lembaga-lembaga yang ada di Indonesia. Kita tahu bahwa tekanan itu begitu hebat, dan bisa dikatan setiap organisasi, baik agama maupun sosial, yang ingin tetap eksis harus mencantumkan pancasila sebagai asasnya. Itu tentunya dialami oleh Dewan Da’wah. Pak Natsir sebagai ketua Dewan Da’wah dan tokoh Islam nasional mengadakan pertemuan- pertemuan dengan tokoh organisasi daerah, bagaimana memahamkan agar tidak mudah larut terhadap tekanan azas tunggal itu. Dengan tokoh-tokoh Dewan Da’wah, bagaimana agar kita terus bisa bertahan. Banyak sekali pertemuan yang diadakan dalam berbagai tingkatan. Untuk mengumpulkan maklumat dan pendapat dari keluarga besar Dewan Da’wah. Sebuah realitas bahwa di Dewan Da’wah ketika itu ada pro dan kontra antara yang terus bertahan dan menerima, karena semua organisasi sudah menerima. Ringkasnya sesudah rapat-rapat yang intens dan berulang- berulang. Pak Natsir tidak pernah tertinggal melaksanakan qiyamulail dan dalam hal-hal tertentu istikharah. Menjelang rapat terakhir penetapan itu, saya dan Ustadz Misbach Malim datang ke rumah beliau pagi-pagi. Pak Natsir mengatakan, nampak itu satu hasil kajian beliau, ”Kali ini kita mengambil keteladanan Bilal bin Rabah”. Dalam konfigurasi kehidupan para sahabat banyak sekali contoh dalam menghadapi keadaan. Ada yang model Ammar bin Yasir ada yang model Yasir dan Sumayyah. Ada model Bilal yang disiksa karena dipaksa meninggalkan keislamannya. Pak Natsir mengatakan, ”Kali ini kita mengambil langkah Bilal. Karena Bilal ketika dipaksa untuk kembali kepada ajaran penguasa Quraisy, ia tetap bertahan sampai kemudian Allah memberikan pertolongan, dalam bentuk hadirnya Abu Bakar ash-Shiddhiq tanpa dia harus meninggalkan Islam. Tidak ada satu kata pun yang mengindikasikan dia keluar dari Islam walaupun dalam tekanan yang sangat berat”. Jadi rupanya inilah yang dipilih Pak Natsir. Dalam musyawarah itu Pak Natsir memang memberikan keluasan kepada tokoh- tokoh lain untuk memberikan gagasannya, tapi puncak musyawarah ini Pak Natsir memberikan keputusan ini: ”Kita tetap bertahan tanpa melakukan perubahan asas. Kita akan berjuang sampai apa yang akan Allah berikan kepada kita”. Dan itulah sikap yang diambil Dewan Da’wah, dan Dewan Da’wah tidak pernah mengganti asasnya dengan asas tunggal sebagaimana yang diambil organisasi Islam lainnya. Sampai kemudian asas tunggal sendiri yang tumbang. Organisasi lain kembali kepada tabi'at lamanya dengan asas Islam. Tapi bagi Dewan Da’wah tidak pernah bergeser sedikitpun, Alhamdulillah. Dan ini pelajaran penting bagi kita dalam mengambil sikap. Ini pengalaman berharga bagi saya. Pengalaman berharga lainnya adalah bahwa Pak Natsir itu tidak pernah berhenti belajar tafsir quran. Kalau saya ke rumah Pak Natsir pagi-pagi, saya senantiasa mendapatkan di meja beliau beberapa kitab tafsir. Semuanya dibuka di surat dan ayat yang sama. Saya memahamkan bahwa beliau selalu melakukan komparasi antara beberapa kitab tafsir, kitab-kitab tafsir itu adalah: Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir fi Dzilalil Quran, Tafsir al-Maududi dan Tafsir al-Furqon karya A. Hasan, guru beliau sendiri. Kitab-kitab tafsir itu dikasih tanda, distabilo. Sangat kuat kesan saya bahwa beliau mengkomparasikan tafsir- tafsir itu dan kemudian itulah yang menjadi bahan nasihat- nasihat beliau. Karena itulah nasihat beliau itu, Masyaallah, karena memang bersumber dari al-quran, selalu enak didengarkan. Dan itu dilakukan setiap hari dan disaksikan oleh kami yang hampir setiap pagi ke rumah beliau. Itu saya kira kekuatan pribadi beliau yang saya pikir harus dilakukan oleh para aktivis dakwah pada umumnya. Sehingga terus tidak kekeringan sumber karena terus melakukan kajian terhadap sumber aslinya, al-Quran. Sudah begitupun beliau sangat tawadhu kalau misalnya mendapati satu ayat atau hadits yang beliau masih ragu. Beliau tidak ragu untuk bertanya kepada anak-anak yang dianggapnya bisa memberikan maklumat. Saya ada satu contoh, kecil tapi penting. Pak Natsir mau berceramah di masjid al-Munawarah dalam kuliah ahad pagi. Pak Natsir mau menyampaikan hadits rasulullah saw. yang diriwayatkan Imam Bukhari tentang 7 golongan yang bakal mendapat perlindungan Allah di hari akhir. Dari 7 golongan itu Pak Natsir faham semua, tapi beliau ragu dengan nomor dua. Sambil membawa buku catatan, saya kemudian dipanggil, saya mendekat, beliau kemudian bertanya. Di poin yang kedua ditulis wasyâbun nasaa fî ’ibâdatillâh. ”Ini nasaa apa artinya?”, tanya beliau. Beliau menulisnya dengan nun sin hamzah. Dalam hadits sesungguhnya adalah dengan syin bukan dengan sin. Karena yang tertulis disitu dengan sin jadi memang tidak nyambung, tidak ketemu apa yang dimaksudkan. Saya hanya sekedar menjawab, ”Ini syin pak”, ”Oh nasyaa. Ya sudah, terima kasih”, jawab beliau. Setelah itu beliau ceramah dan memang dengan kedalaman yang sangat luar biasa. Dan itu mengesankan ketawaduan seorang pemimpin. Memperlihatkan bagaimana kita bertawadu. Bahwa mungkin saja dalam satu waktu kita ini ada kekurangan, kekhilafan, kesalahan dan secara jujur harus kita akui itu, karena dengan mengakui akan teratasi. Ada yang memang agak khas menggambarkan perhatian Pak Natsir terhadap dunia Islam. Menjelang Pak Natsir sakit dan kemudian dioperasi besar, ada berita penyerbuan Irak terhadap Kuwait, awal perang Teluk. Dan Pak Natsir masih sempat membaca berita itu pagi hari di Arab News. Setelah operasi Pak Natsir masih di ruang ICU, tidak boleh seorangpun menjenguk kecuali tim dokter dan keluarga. Kita ikut berjaga di luar ruang saja dengan harap-harap cemas, melayani tamu-tamu yang datang. Kemudian ketika Pak Natsir mulai sadar, Pak Natsir menanyakan saya dan minta saya untuk masuk. Tentu dokter dan keluarga tidak mengizinkan dan saya juga tidak mau masuk karena ini untuk kepentingan beliau. Tapi keinginan beliau ini terus disampaikan. Sehingga keluarga dan dokter akhirnya musyawarah dan mengizinkan saya untuk masuk. Sambil ditemani dokter saya kemudian masuk, saya waktu itu membwa alat rekaman karena ini hal sangat penting. Karena menjadi keinginan ummat untuk mengetahui apa yang Pak Natsir ucapkan atau sampaikan. Perasaan saya waktu itu campur aduk, tidak bisa saya katakan. Tiba-tiba beliau bertanya, ”Bagaimana Syeikh Mutawwa dan Syeikh al-Fiji”. Saya menangis mendengar pertanyaan Pak Natsir itu. Syeikh Mutawa dan Syeikh al-Fiji itu adalah ketua Haiah al-Khairiyah di Kuwait. Dua orang ini adalah sejawat Pak Natsir. Dan beliau tahu dan ingat bahwa sebelum beliau sakit itu beliau membaca Arab News, Kuwait diserang Irak. Beliau berfikir bagaimana nasib kedua sahabatnya ini. Jadi itulah rupanya yang keluar pertama dalam ingatan beliau. Kenapa saya yang diminta masuk, karena saya yang dianggap tahu permasalahan luar negeri. Saya menjawab, ”InsyaAllah Pak mereka selamat. Tapi memang sekarang sedang menunggu berita yang meyakinkan dimana mereka berdua itu berada”. Setelah mendengar jawaban saya beliau seperti lega. Ada hal yang ingin diketahui kemudian mendapatkan jawabannya. Sesudah itu saya keluar. Kemudian teman-teman dan keluarga bertanya apa yang ditanyakan Bapak. Sebelum menjawab saya menangis, ”Bapak menanyakan sahabat-sahabatnya di Kuwait, Syeikh Mutawa dan Syeikh al-Fiji”, jawab saya. Sejak peristiwa itu, jika saya diminta Pak Natsir masuk, dokter maupun keluarga tidak melarang. Karena tidak membebani masalah Pak Natsir, bahkan bisa agak meringankan. Pak Natsir sempat bergurau kepada dokter, begitu saya masuk kata Pak Natsir kepada dokter, sambil menunjuk kepada saya, ”Ini dokter saya juga”. Dalam keadaan sangat gawat itu ada dua kali saya dipanggil, pertama tadi, yang kedua antara sadar dan tidak beliau bertanya kepada anak-anaknya ”Kayu Tanam, Kayu Tanam”. Putra putri beliau tidak faham dengan perkataan Pak Natsir itu. Kemudian Bu Ida dan Bu Aisyah mengatakan bahwa Bapak bertanya tentang Kayu Tanam. Saya kemudian ingat bahwa sedang dibangun satu masjid di Ins Kayu Tanam, tidak jauh dari kota Padang. Masjid itu belum jadi. Rupanya itu yang menjadi pikiran beliau. Saya bilang hal itu kepada Bu Ida. ”Ya sudah Pak Muzayyin saja yang menjelaskan kepada Bapak”, ujar Bu Ida. Maka saya diizinkan masuk. Betul memang, ketika masuk saya katakan, ”Masjid di Ins Kayu Tanam Pak?”. ”Iya, bagiaman itu?”, tanya Pak Natsir. ”InsyaAllah Pak itu diselesaikan oleh bapak-bapak di Sumatera Barat”, jawab saya. Dan setelah itu Pak Natsir terlihat lega. Ketika Pak Natsir sedang berbaring di Rumah Sakit, keadaan beliau sudah lebih baik, Dewan Da’wah akan mengadakan silaturahmi nasional. Rupanya Pak Natsir berfikir apa yang mungkin kira-kira bisa disampaikan kepada kawan-kawan dalam keadaan sakit di acara silaturahmi itu. Satu siang Bu Ida datang ke kantor Dewan Da’wah dan mengatakan kepada saya, ”Pak Muzayyin diminta Bapak ke Rumah Sakit, katanya ingin menyampaikan sesuatu”. Saya kemudian ke rumah sakait. Dan beliau menyampaikan bahwa beliau ingin menyampaikan pidato dalam pembukaan silaturahim itu. Judul pidatonya Da’wah Ilallah. Beliau diktekan dan saya tulis. Saya merasa senang sekali menuliskan pidato ini karena beliau sedang sakit. Saya tulis konsep pidato itu. Kadang saya mengingatkan sesuatu karena beliau terbiasa bermusyawarah kalau sedang menuliskan pidato, terutama terkait dengan informasi sirah yang ingin disampaikan di situ. Setelah selesai semua saya kembali ke kantor, kemudian saya tik. Tadinya Pak Natsir minta untuk direkam dengan tape kecil. Dan nanti suara itulah yang kemudian di bawa ke acara silaturahim. Kemudian saya sambil mengerjakan itu terfikir untuk merekam dengan video juga. Akhirnya ketika kembali ke rumah sakit saya ajak saudara Amir dan saudara Asep. Saudara Amir untuk merekan suara dan foto, saudara Asep merekam dengan video. Kami berangkat bersama Ustadz Syuhada Bahri. Setelah teks itu dibaca Pak Natsir, dari awal sampai akhir beliau setuju tidak ada yang dikoreksi. ”Saya baca ya”, kata Pak Natsir. Sambil berbaring kemudian Pak Natsir membacakan pidatonya dengan penuh perasaan dan tekanan sebagaiaman biasanya beliau menyampaikan khutbah-khutbahnya. Beliau memegang teksnya sendiri walau dengan agak bergetar. Subhanallah itu menjadi pesan terakhir karena setelah itu beliau tidak lagi sempat menyampaikan satu tausyiah karena keadaan yang tidak memungkinkan. Ada yang menarik ketika Pak Natsir sedang serius membaca, dalam teks itu ada pembahasan mengenai haji wada dan Rasul sedang khutbah di Padang Arafah. Begitu sampai kepada kalimat padang arafah, beliau membacanya dengan ”padang mahsyar”. Sambil tersenyum agak geli, beliau bekata, ”lho kok padang mahsyar. Coba ulang lagi”, katanya. Ketika Pak Natsir wafat saya tidak menyaksikan langsung karena sedang berada dalam perjalanan menuju Metro, Lampung. Saya ditugasi Dewan Da’wah untuk meresmikan satu masjid dan madrasah hasil kerjasama dengan Lajnah Alam Islami yang kontrak kerjasamanya masih sempat ditanda tangani Pak Natsir. Saya bersama Pak Hardi Arifin, Pak Wardi Kamili dan Pak Darussalam. Sesudah menyeberang, kira-kira waktu isya kami sampai di Tanjung Karang, kita berhenti untuk makan di rumah makan Padang. Saat berhenti itulah kita mencari telepon umum dan menelepon ke Jakarta. Berita pertama yang kita dapatkan adalah Pak Natsir wafat. Mendengar berita itu kita menangis. Langsung kami putuskan kembali ke Jakarta lagi, tidak meneruskan ke Metro. Kita serahkan kepada kawan-kawan di Metro untuk meresmikan masjid dan madrasah itu atas nama Dewan Da’wah. Kami kemudian sampai di rumah Pak Natsir sekitar pukul tiga dini hari. Dan orang sudah banyak berkumpul di sana. Sampai sekarang jika ada pertemuan-pertemuan keluarga Pak Natsir, saya selalu diminta hadir. Dan bagi saya itu sangat menyenangkan karena ketika berkumpul saya merasa bertemu dengan almarhum karena bertemu dengan keluarganya. (Wawancara dilaksanakan bulan Juni tahun 2008 oleh Dwi Budiman di kediaman Ustadz Muzayyin)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ISLAM DALAM PANDANGAN SARJANA BARAT

KETENANGAN DAN KESEIMBANGAN JIWA SEBAGAI BEKAL DA’I